
Kemanakah anak kelas XII menjelang UNAS?
Refreshingkah? Istirahat di rumahkah? cangkru'ankah? atau ziarahkah?
UNAS semakin dekat, dekat pula debaran yang kian muncul di hati para siswa kelas XII. mereka harus siap menghadapi pertempuran yang kian memanas. Pembelajaran selama tiga tahun yang ia terima dari bangku sekolah harus di pertaruhkan dalam beberapa hari saja. Sungguh sangat ironis dengan kenyataan yang sedang terjadi. Di saat mereka belajar mati-matian nasib beruntung dan kesedihan siap menyapa mereka kapan saja. Ada yang menangis, tertawa, siap dan ada pula yang tidak siap dengan pertarungan ini. Bagaimana bisa siap, jika setiap hari kerjaan mereka hanya dijejali dengan berbagai macam ujian tanpa mengistirahatkan pikiran mereka. Secara tidak langsung otak anak akan merasa tertekan dan jenuh yang ujung-ujungnya adalah depresi dan stres.
Menyoal tentang ikhtiar yang terkadang mereka lakukan hanyalah sekedar ikhtiar semata. Misalnya, ziarah ke makam para wali dengan mengharapkan berkah para wali tersebut dan tanpa mereka sadari bahwa ikhtiar tersebut perlu dibarengi dengan belajar yang tekun meskipun itu hanya membaca secara sepintas saja.
Memang, doa adalah sebagian dari ikhtiar tetapi tidak ada salahnya jika diselingi dengan belajar. Betul tidak...?
Mengapa para siswa atau siapapun yang sedang menghadapi ujian selau pergi ke para kyai, orang pintar ataupun makam para wali?
Mereka terkadang sangat berharap doa orang-orang tersebut dapat diijabah oleh Yangkuasa dan mereka bisa lulus dengan jalan tersebut padahal orang-orang tersebut hanyalah perantara sedangkan yang menentukan segalanya adalah diri mereka sendiri. Fenomena apakah yang kini sedang terjadi pada masyarakat kita? tanpa mau berusaha lebih giat mereka menginginkan hasil yang lebih.
Refreshingkah? Istirahat di rumahkah? cangkru'ankah? atau ziarahkah?
UNAS semakin dekat, dekat pula debaran yang kian muncul di hati para siswa kelas XII. mereka harus siap menghadapi pertempuran yang kian memanas. Pembelajaran selama tiga tahun yang ia terima dari bangku sekolah harus di pertaruhkan dalam beberapa hari saja. Sungguh sangat ironis dengan kenyataan yang sedang terjadi. Di saat mereka belajar mati-matian nasib beruntung dan kesedihan siap menyapa mereka kapan saja. Ada yang menangis, tertawa, siap dan ada pula yang tidak siap dengan pertarungan ini. Bagaimana bisa siap, jika setiap hari kerjaan mereka hanya dijejali dengan berbagai macam ujian tanpa mengistirahatkan pikiran mereka. Secara tidak langsung otak anak akan merasa tertekan dan jenuh yang ujung-ujungnya adalah depresi dan stres.
Menyoal tentang ikhtiar yang terkadang mereka lakukan hanyalah sekedar ikhtiar semata. Misalnya, ziarah ke makam para wali dengan mengharapkan berkah para wali tersebut dan tanpa mereka sadari bahwa ikhtiar tersebut perlu dibarengi dengan belajar yang tekun meskipun itu hanya membaca secara sepintas saja.
Memang, doa adalah sebagian dari ikhtiar tetapi tidak ada salahnya jika diselingi dengan belajar. Betul tidak...?
Mengapa para siswa atau siapapun yang sedang menghadapi ujian selau pergi ke para kyai, orang pintar ataupun makam para wali?
Mereka terkadang sangat berharap doa orang-orang tersebut dapat diijabah oleh Yangkuasa dan mereka bisa lulus dengan jalan tersebut padahal orang-orang tersebut hanyalah perantara sedangkan yang menentukan segalanya adalah diri mereka sendiri. Fenomena apakah yang kini sedang terjadi pada masyarakat kita? tanpa mau berusaha lebih giat mereka menginginkan hasil yang lebih.
2 komentar:
Nek gak ono sing tahlilan berarti g ono berkat, lha terus aku mangan opo?
Yang perlu dipertanyakan adalah mengapa UNAS dijadikan standart kelulusan siswa? kecerdasan seorang anak itu bermacam-macam, tapi kenapa yang dijadikan tolak ukur hanya kecerdasan kognitif? apalagi hanya ditentukan beberapa mata pelajaran. Disini sangat terlihat sekali bahwa pemerintah (DIKNAS) hanya setengah-setengah menciptakan KTSP, DIKNAS masih takut kehilangan kontrol. Terus apakah sekolah daerah pantai yang belajar secara mendalam tentang bagaimana pengolahan pantai dan laut disuruh menjawab persoalan-persoalan daerah pegunungan? lalu untuk apa KTSP itu? Apalagi ditambah penetapan SKL secara "MEREM" itu bisa diterima siswa yang ujuk-ujuk 4 bulan sebelum UNAS baru ditetapkan?Seharusnya kalau ada penetapan SKL itu berlaku untuk siswa yang sekarang masih mulai kelas 1, bukan untuk yang kelas 3. DIKNAS ITU KOLOT YANG TIDAK MENGERTI TENTANG MULTIPLE INTELEGENT. APAKAH DIKNAS MENJAMIN ANAK YANG LULUS UNAS BISA BERSAING DALAM DUNIA KERJA? PADAHAL KEAHLIAN KOGNITIF HANYA 20 % SAJA YANG DIPAKAI DALAM KEHIDUPAN, YANG 80 % ADALAH EPICUTNYA. (yo wis ngeneiki nek kakean kata-kata sulit)
Posting Komentar